Rabu, 06 Mei 2020

Asal Kata Boneka


Mungkin sebagian orang pernah mendengar lagu "Boneka dari India" karya Ellya Khadam (1928-2009). Teks lagu itu:
"Hatiku gembira, riang tak terkira/Mendengar berita, kabar yang bahagia.
Ayahku kan tiba, datang dari India/Membawa boneka yang indah jelita. Oh sayang..."
Lagu ini sangat terkenal pada akhir tahun 1950-an. Demikian terkenalnya, lagu ini dinyanyikan pula oleh sejumlah artis generasi selanjutnya, misalnya Titiek Sandora, Rita Sugiarto, dan Saskia.  

Asal-usul Kata Boneka
Apakah seperti yang tersurat dalam lagu Ellya Khadam, kata “boneka” juga berasal dari India? Rupanya, kata "boneka" bukan berasal dari bahasa-bahasa India, umpama Sanskerta atau Tamil. Kata “boneka” diserap bahasa Indonesia dari bahasa Portugis.

Dalam bahasa Portugis, kata yang digunakan untuk boneka adalah “boneca”. Ketika dibaca, kata “boneca” terdengar serupa dengan kata “boneka”. Huruf "c" pada kata "boneca" akhirnya berubah jadi "k" di telinga nenek moyang kita. Para pendahulu kita amat mungkin mendengar kata "boneca" ini dari para saudagar Portugis yang berdagang di Nusantara, terutama di Maluku pada abad ke-16 dan 17.

Sejarawan Jean Gelman Taylor mengatakan, bahasa Portugis adalah bahasa utama dalam perdagangan di Asia pada abad ke-16 dan 17.
Menurut pengamatan saya, penyerapan kata “boneka” kiranya terkait dengan dua hal: 
Pertama, penyerapan kata “boneka” terjadi dalam konteks dunia niaga. Para pedagang dari Portugal datang ke Nusantara pertama-tama bukan untuk berjualan boneka, tetapi guna berdagang rempah-rempah dari Maluku. Akan tetapi, mungkin saja boneka dulu diperdagangkan sebagai komoditas perdagangan sampingan.

Gejala ini bisa kita telusuri dari banyaknya kata-kata serapan dari bahasa Portugis yang adalah barang dagangan atau istilah dagang.  C. D. Grijns dkk dalam "Loan-words in Indonesian and Malay (2007)" memberi aneka contoh berikut ini: cerutu (charuto), kéju (queijo), keméja (camisa), kertas (cartas), lelang (leilão), mentéga (manteiga),  sepatu (sapato),  terigu (trigo), tinta (tinta), dan tukar (trocar).

Boneka” dan Permainan Anak-Anak
Kedua, proses penyerapan kata “boneca” jadi “boneka” bisa jadi terjadi dalam konteks permainan anak-anak. Gejala ini bisa dipahami karena beberapa kata serapan dari bahasa Portugis memang terkait erat dengan permainan. Misalnya, bola (bola), bonéka (boneca), dansa (dança), dan dadu (dado).

Skenario yang mungkin terjadi adalah anak-anak orang Portugis lah yang pertama-tama bermain boneka. Mungkin bocah-bocah Maluku lantas tertarik untuk bermain boneka dengan anak-anak peranakan Portugis ini. Akhirnya, anak-anak setempat mengenal mainan baru bernama “boneca”.

Bisa jadi, saat boneka baru saja viral waktu itu, anak-anak Ambon merengek-rengek, "Mama, biking beta boneka ya!" Orang tua mereka mungkin lantas memesan boneka pada “orang dagang” Portugis, atau membeli sendiri boneka di Portugal jika mereka beruntung diajak berlayar ke sana.

Bagi anak-anak Maluku pada abad ke-16 dan 17, boneka bukan dari India. Lirik lagu di atas mungkin mereka ubah ke dalam versi bahasa Ambon, "Beta sanang paskali, pas dengar kabar Papa mo datang, antua datang dari Portugal, bawa beta boneka yang inda lawange. Sio sayange…

-pernah dimuat di Harian Kompas-
hak cipta pada Bobby Steven MSF

Label: , , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda